Berburu Wisata Alam di Pulau Wawonii

Langara (konkepkab.go.id) – Wisata air terjun memang selalu memikat para pencinta wisata baik wisatawan lokal maupun mancanegara, panorama alam yang indah alami, ditambah deruh air yang jatuh dari ketinggian, dihiasi hijaunya berbagai tumbuhan liar, diapit tebing bak tembok raksasa yang dialiri sungai kecil jernih menambah kesejukan yang tetunya bisa merefres pikiran pengunjungnya yang sibuk melakukan kegiatan sehari-hari.


Salah satu wisata air terjun yang perlu dikunjungi para pencinta wisata bila berada di Pulau Kelapa adalah wisata air terjun Lantambaga Kecamatan Wawonii Tengah, Air Terjun Lantambaga selain panorama alamnya yang cukup memukau para pengunjungnya juga menyajikan berbagai tumbuhan alam yang bisa dicicipi buahnya, salah satunya adalah buah cempedak yang tumbuh liar di hamparan hutan sekitar Air Terjun tersebut.


Bagi anda pencinta wisata yang berkunjung di wisata alam yang menyajikan dua susun Air Terjun tersebut, khususnya di bulan Januari hingga April setiap tahunnya, selain disuguhi panorama alam yang indah juga akan disambut dengan wanginya aroma buah cempedak di sepanjang jalan menuju Lantambaga.


Air terjun berketinggian kurang lebih 40 meter tersebut hanya berjarak sekitar lima kilo meter dari Kota Langara dan hanya butuh waktu kurang dari setengah jam untuk menikmati keindahan alam di hulu sungai Lampeapi itu.


Bagi pengunjung yang berasal dari luar Pulau Wawonii yang ingin menikmati keindahan panorama alam air terjun Lantambaga, dari Kota Kendari hanya butuh waktu kurang lebih tiga jam bisa menumpangi kapal fery dan kapal kayu dari pelabuhan kendari menuju pelabuhan Langara Ibu Kota Konkep, dari Kota Kendari pengunjung bisa membawa kendaraan masing-masing baik roda empat maupun roda dua.


Lantambaga adalah salah satu anak sungai yang bermuara di Sungai Lampeapi yang memiliki keunikan tersendiri dan menjadikan sungai kecil tersebut disebut Lantambaga.


Salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Wawonii Tengah, Nasaruddin (69) menceritakan bahwa penamaan sungai Lantambaga karena adanya keunikan tersendiri sungai yang menyuguhkan dua susun air terjun yang mampu memukau pengunjungnya tersebut.


“Lantambaga, kalau dalam bahasa Wawonii La artinya sungai, tambaga artinya tembaga, jadi Lantambaga artinya sungai tembaga, tetapi bukan berarti Lantambaga itu banyak tembaganya tetapi bisa jadi ada tembaganya, hanya saja kalau hujan deras kemudian banjir, airnya keruh atau kabur menyerupai warna tembaga, tidak sama keruhnya (warna airnya) dengan anak sungai lainnya, kemudian kalau Lantambaga ini banjir mempengaruhi warna air di sungai Lampeapi sebagai sungai induk,” tuturnya.


Mantan Pelaksana Kepala Desa Lampeapi tersebut menambahkan bahwa bukan hanya tanah dan batunya saja yang menyerupai warna tembaga, tetapi undang dan beberapa jenis ikan yang hidup disungai Lantambaga tersebut juga menyerupai warna tembaga.


“Dulu kalau kita ke Lantambaga, kita benar-benar terhibur, karena dulu masih banyak undang di sana (Lantambaga), cukup dengan menghambur sisa-sisa makanan (bekal) yang kita bawa, udang akan muncul dari sela batu, jadi kita tidak akan kelaparan kalau ke Lantambaga, tapi sekarang sudah hampir punah karena sebagian masyarakat sudah menggunakan racun sebagai alat tangkap,” tambahnya.(ain)