Tahun 2017 Panen Mente di Desa Roko-Roko Raya Capai 600 Ribu Ton
Warga dan Pemerintah Gelar Syukuran

By Admin 06 Mar 2018, 08:01:09 WIB Ekonomi
Tahun 2017 Panen Mente di Desa Roko-Roko Raya Capai 600 Ribu Ton

Keterangan Gambar : Bupati Konkep H. Amrullah (ke empat dari kiri) disusul Wabup, Andi Muhamad Lutfi, Sekab, H. Cecep Trisnajayadi, anggota DPRD Konkep, saat merayakan pesta panen jambu mete.


Langara, konkepkab.go.id – Petani Jambu Mete di Desa Roko-Roko Raya, Kecamatan Wawonii  Tenggara, mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe Kepulauan (Konkep). Kerja keras mereka sebagai petani jambu mete di desa tersebut membuahkan hasil.

Baru-baru ini warga daerah itu merayakan pesta panen keberhasilan mengelola kebun jambu mete. Dalam masa panen tahun ini hasilnya mencapai 600.000 ton pada lahan 1.000 hektare. Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Konkep, H. Muh. Tahrir, mengatakan, 600.000 ton biji mete tersebut merupakan akumulasi panen 500 kepala keluarga (KK).

Setiap KK memiliki dua hektare lahan jambu mete. Bila dikalkulasi bisa menghasilkan 1.200 kilogram biji mete pada lahan dua hektare tersebut.

“Hasil mete itu tidak diekspor, ada pengumpul yang membeli untuk dibawa ke Kabupaten Buton dan diolah. Tiap pohon juga bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram,” kata Muh. Tahrir, Kadis Pertanian Konkep. 

Acara pesta panen buah mete di Desa Roko-roko Raya, bentuk kesyukuran mereka atas capaiannya  bisa menghasilkan mete mencapai ratusan ribu ton.  Dalam pesta panen tersebut, turut hadir Bupati Konkep, H. Amrullah, Wakil Bupati Konkep, Andi Muhamad Lutfi, Sekretaris Daerah H.Cecep Trisnajayadi dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Mantan Kepala BPMD Konkep itu menjelaskan, harga perkilogram mete saat ini mencapai Rp 24 ribu. Nilainya lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya Rp 16 ribu.

“Alhamdulillah harga jambu mete tahun ini naik. Meski jumlah panen tahun ini tidak sebanyak tahun lalu yang menembus 700.000 ton,” katanya. Dia menambahkan, hasil panen jambu mete di Bumi Kelapa tahun ini memang mengalami penurunan. Misalnya kebun jambu mete yang ada di Desa Lampeapi dan Palingi.

“Tapi kami tetap bersyukur karena harganya melonjak bisa menembus Rp 24 ribu,” ujarnya.

Ia berjanji, pihaknya akan membuat peningkatan produksi jambu mente. Dengan membuat satu depot kebun percontohan, pemupukan, pemberantasan hama dan penanaman jambu mete.

“Dengan panen ratusan ton jambu mente ini, secara otomatis bisa meningkatkan perekonamian warga. Apa lagi ini bisa dilakukan tiap tahun,” tandas H. Muh. Tahrir.(Fauz)